KONTAN.CO.ID – Sentra furnitur kawasan Kalimalang, Jakarta Timur memang kondang bagi masyarakat Jakarta dan sekitar. Namun, status ini tak membuat pedagang selalu kebanjiran pelanggan.

Para pedagang justru mengaku omzetnya terus menurun dari tahun ke tahun. Momen tersebut terjadi sejak tiga tahun lalu seiring dengan pembangunan jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) dan pelebaran jalan.

Harto Nuansa, pemilik Nuansa Furniture mengklaim telah terjadi penurunan penjualan yang cukup drastis di toko miliknya. Hanya dia enggan menyebutkan besaran penurunan itu. “Dulu Sabtu, Minggu, dan tanggal merah pasti banyak pembeli, tapi sekarang sudah tidak lagi semenjak adanya pembangunan jalan tol,” katanya kepada KONTAN. 

Selain pembangunan jalan tol proyek pelebaran jalan Kalimalang ikut mempengaruhi omzet pedagang furnitur. Pelebaran jalan memang mampu mengurai kemacetan, tapi para pengendara tidak lagi memperhatikan pusat furnitur legendaris tersebut. Meskipun, pedagang telah memajang aneka model kursi, meja, lemari dan lainnya di depan toko.

Di sisi lain, tingkat persaingan dengan sesama toko furnitur untuk menggaet pembeli cukup ketat. Tak jarang, menyebabkan perang harga di antara penjual furnitur semata untuk menarik hati konsumen. 

Untuk mempertahankan bisnis, Harto mulai merambah media digital untuk memasarkan produknya. Ia langsung memanfaatkan beberapa marketplace guna memperluas pasar.

Ikhtiar yang dilakukan Harto menuai hasil positif. Tak terduga,  pelanggan dari luar kota mulai berdatangan.  
Pesanan yang datang pun mulai bertambah, tidak lagi satuan tapi dalam jumlah yang lebih banyak.  Malah, ia kerap kali memberikan potongan harga terhadap konsumen yang membeli dalam jumlah banyak supaya mau berbelanja kembali di Nuansa Furniture. 

Harto juga menjaga pelanggan dengan tidak mengerek harga jual meski bahan baku melonjak. Yang penting, bisa memuaskan hati pelanggan lewat produk berkualitas, dan memenuhi pesanan tepat waktu.

Sementara, Rusmiati, pemilik Dian Furniture berupaya menerapkan strategi dengan menyediakan lahan parkir luas bagi konsumen agar lebih nyaman saat berbelanja furnitur. Hanya saja ia mengklaim strategi ini belum jitu untuk menekan kunjungan konsumen yang terus turun. 

Agar roda bisnisnya terus berputar, Rusmiati menjajal media digital seperti Instagram dan Facebook untuk menawarkan aneka koleksi perkakas buatannya. Selain itu, ia juga berekspansi dengan menjalin kerjasama dengan developer properti untuk mengisi perkakas rumah atau perkantoran.

Perempuan berhijab ini terus membuat inovasi pemasaran di tengah persaingan di bisnis yang ketat.  Karena itulah dia tetap mengikuti perkembangan model furnitur yang sedang populer agar bisa menciptakan produk yang mampu menarik pelanggan, khususnya para kaum milenial yang baru mempunyai rumah. 

Cara inovasi inilah yang terbukti mampu membuat bisnis perabot masih menjanjikan. Furnitur tetap menjadi barang yang dicari konsumen untuk memenuhi ruang di dalam rumah atau kantornya. Jadi, pemilik usaha furnitur tidak perlu takut kehilangan pasar di era digital.      

(Selesai)

Reporter: Tri Sulistiowati
Editor: Johana K.

Reporter: Tri Sulistiowati
Editor: Johana K.