Site Loader

LOCATION

Rock Street, San Francisco

KONTAN.CO.ID – UBi jepang ternyata juga berpotensi dikembangkan di Indonesia. Pasalnya, permintaan ubi dari tanaman bernama latin Satsui Maimo ini terus meningkat setiap tahun. Kini, petani ubi tanah air pun semakin tertarik mengembangkan varietas asal negeri Sakura ini. 

Muhammad Sutardi, petani ubi asal Karanganyar, Jawa Tengah mengatakan, sudah lima tahun terakhir menanam ubi di lahannya. Ubi Jepang menjadi salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan oleh petani ubi di sekitar Karanganyar lantaran permintaannya di Jawa Tengah cukup deras. 

“Permintaannya sampai sekarang masih tinggi, apalagi dari produsen makanan kecil yang banyak memakai ubi,” ujar Tardi. Selain itu, permintaan dari beberapa kafe dan restoran juga ada. 

Tardi memastikan bahwa seluruh hasil panen ubi Jepang terserap pasar lokal maupun diangkut oleh mitra pabrik. Meski demikian, ia mengakui jika pasokan ubi Jepang masih kurang. 

“Sebagian besar panen petani ubi di sini disetor ke pabrik. Biasanya sampai 60 ton per bulan, tapi itu masih kurang karena kebutuhannya mencapai 150 ton sebulan,” katanya. Sementara, Tardi bisa memanen sekitar 3 – 5 ton ubi Jepang tiap bulan. 

Saat ini, harga ubi Jepang berkisar Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram (kg), tergantung ukurannya. Tardi bilang di supermarket atau pasar, ubi Jepang bisa dijual tiga kali lipat sampai empat kali lipat harganya per kg. “Di pasar harganya Rp 15.000 per kg, kalau supermarket sekitar Rp 20.000 per kg,” tandasnya. 

Tingginya permintaan ubi Jepang juga diakui oleh Alfariz Wiranto, petani asal Cianjur, Jawa Barat. Menurutnya, sejatinya ubi Jepang masuk ke pasar Indonesia sejak 2010 lalu. Seiring berjalannya waktu, permintaan makin banyak karena pengaruh gaya hidup dan kandungan gizi ubi Jepang yang tinggi. 

“Makin ke sini, banyak orang ingin lebih sehat. Ubi Jepang ini kan rendah gula tapi tetap mengenyangkan. Kandungan vitamin A dan C ubi Jepang juga banyak, bagus buat mencegah diabetes,” ungkapnya. 

Fariz sendiri menggarap peluang budidaya ubi Jepang sejak empat tahun lalu. “Saya lebih banyak melayani restoran, kafe atau produsen kue. Ritel masih belum rutin karena pasokannya kurang dan banyak standarnya,” tandas Fariz. 

Ia  menjual ubinya Rp  9.000 per kg. Untuk pembelian grosir, harganya Rp 7.000 per kg. Dalam sebulan, Fariz bisa memproduksi sekitar 4-7 ton ubi Jepang.                       

Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Johana K.

Post Author: admin