Site Loader

LOCATION

Rock Street, San Francisco

KONTAN.CO.ID – Seperti dalam kehidupan sehari-hari, dunia usaha juga menghasilkan limbah. Para pengusaha pun seharusnya berpikir bijak soal limbah yang dihasilkan. Sebab, persoalan limbah seolah jadi problematika klasik dengan solusi yang belum maksimal.

Begitu pula dengan kayu lapis yang sering menjadi bahan furnitur. Limbah kayu lapis berupa sisa-sisa potongan vinir dari industri plywood yang tak lagi memiliki nilai ekonomi.

Namun, kini limbah kayu lapis bisa disulap jadi lukisan bernilai hingga belasan juta rupiah. “Sebenarnya bisnis kami ini yang utama itu importir vinir. Lalu kami lihat sampah vinir banyak sekali menumpuk dan berpikir bisa jadi apa selain dibuang,” ungkap Ari Wibowo, Marketing Madero Veneer asal Semarang, Jawa Tengah.

Madero Veneer sendiri bergerak di bisnis furnitur dan impor kayu lapis. Ari menjelaskan, mulanya potongan-potongan vinir atau kayu pelapis tipis pun mulai coba dibuat lukisan. Gaya lukisannya pun menggunakan teknik WPAP atau Wedha’s Pop Art dengan gradasi warna alami aneka jenis kayu.

“Setiap kami buat mebel pakai vinir kan pasti ada lebihnya. Nah, lebihannya ini dipakai untuk bahan baku lukisan. Pakai teknik gradasi warna alami dari kayu asli atau kayu solid. Kami ada satu pelukis yang bisa buat. Mungkin satu-satunya juga,” kata Ari.

Ia mengatakan, lukisan yang dibuat Madaro Veneer kebanyakan mengambil obyek para tokoh dunia atau sketsa wajah. Mulai dari lukisan Mahatma Gandhi, Mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel hingga Presiden Jokowi pun pernah dibuat. Aneka lukisan dari limbah kayu lapis ini dibanderol antara Rp 15 juta hingga Rp 25 juta, tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya.

“Hanya dengan modal seni dan ide dari para pelukis itu, bisa jadi produk minimal harganya Rp 15 juta. Lukisan wajah Presiden Jokowi pernah dilihat langsung waktu pameran di Jakarta sekitar tahun 2014 lalu. Dua hari kemudian ada yang beli, harganya waktu itu Rp 18 juta,” ungkap Ari.

Menurutnya, Madaro selalu mendapat pesanan lukisan wajah setiap bulannya. Pesanan bakal meningkat jika mengikuti pameran. Setiap satu lukisan, lama pengerjaannya sekitar sebulan.

“Setiap bulan minimal ada satu atau dua pesanan yang masuk. Kalau habis ikut pameran biasanya lumayan ramai, bisa 3-5 pesanan lukisan. Karena waktu pengerjaannya lama dan pelukis terbatas, kami tidak bisa terima pesanan terlalu banyak,” jelas Ari.

Ia mengatakan, pembeli manca negara juga banyak yang mencari lukisan limbah vinir milik Madaro. “Pernah ada orang Sri Lanka, India, mereka minta dibuatkan lukisan wajah mereka sendiri,” tandasnya.

Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Johana K.

Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Johana K.

Post Author: admin