Aroma bisnis piza masih menguar

KONTAN.CO.ID – Jakarta. Popularitas piza tak pernah meredup. Terutama bagi anak-anak muda. Selain rasanya yang pas dengan lidah, penampilannya yang cantik dan Instagramable membuat kudapan khas Italia ini banyak digemari.

Apalagi, sekarang, banyak penikmat kuliner yang hobi memotret sajiannya sebelum disantap, lalu diunggah ke akun media sosialnya. Fenomena ini mendorong pertumbuhan gerai piza lokal. Gerainya tak hanya muncul di perkotaan,  tapi juga di daerah.

Bahkan, tak sedikit dari pemilik usaha yang mulai mengembangkan bisnisnya melalui sistem kemitraan. Memang, strategi ini cukup jitu supaya bisnis bisa berkembang dengan cepat .
Gayung bersambut. Respon tawaran kemitraan ini cukup positif. Pemilik kedai piza lokal pun berhasil membuka gerai-gerai mitra saban tahunnya. Ada belasan sampai puluhan mitra dirangkul setiap tahun.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang perkembangan sektor usaha ini, Kontan akan membahas tiga usaha kemitraan pizza yaitu Djon’s Pizza, Bebz Pizza, dan Pizza Mini. Berikut ulasannya.
Djon’s Pizza
Usaha kuliner milik Aris Soendoro terlihat berkembang cukup agresif. Pasalnya, dalam kurun waktu dua tahun total mitra yang bergabung naik lebih dari tiga kali lipat Daftar Poker.
Saat diwawancara KONTAN pada 2016 lalu, Aris baru memiliki sembilan gerai. Sekarang, sudah bertambah menjadi 30 gerai. Rinciannya, empat milik sendiri dan 26 lainnya milik mitra.
“Mitra tersebar dari Aceh, Temanggung, Magelang, Kutoarjo, Wates, Yogyakarta, Boyolali, Malang, Papua, dan Sulawesi Tenggara,” jelasnya kepada KONTAN. Sampai dengan penghujung tahun, dia menargetkan dapat menjaring dua mitra baru.
Paket kemitraan Djon’s Pizza sedikit berubah, Jika dua tahun lalu, kemitraan dipatok mulai dari Rp 15 juta, Rp 40 juta, dan Rp 75 juta sampai Rp 100 juta, sekarang, khusus paket investasi Rp 15 juta sudah naik menjadi Rp 30 juta. Kenaikan tersebut sengaja dilakukan untuk meningkatkan sistem manajemen.
“Setiap mitra punya satu sistem suplai barang di kami. Jadi, dari biaya kemitraan itu ada yang kami alokasikan di sistem kami, baik untuk penambahan freezer atau stok barang. Jadi, mitra punya stok barang sendiri-sendiri,” terang Aris.
Ia juga menambahkan satu paket kemitraan dengan nilai Rp 180 juta. Fasilitas yang didapatkan mitra adalah segala keperluan membuka usaha dan berjualan. Sehingga, mitra tinggal menjalankannya saja.
Djon’s Pizza juga terus berinovasi. Aris menyebutkan untuk varian ukuran, ia menambahkan satu ukuran yaitu Jumbo Box. Alhasil, kini ada empat varian ukuran piza dalam menu Djon’s Pizza.
Selain itu, ia bilang. dalam tiga bulan ke depan akan meluncurkan layanan pesan online versi aplikasi yang bertujuan untuk mempermudah permintaan konsumen.
Disisi lain ada satu menu yang dikurangi. “Kami hapus karena melihat lokasi mitra yang jauh-jauh, jadi kami pilih menu yang bisa bertahan lama saja,” tuturnya.
Untuk harga produknya masih dibanderol sama, yaitu Rp 15.000 sampai Rp 23.000 per loyang ukuran kecil, Rp 25.000 sampai Rp 40.000 per loyang untuk ukuran sedang, dan Rp 50.000 sampai Rp 75.000 untuk ukuran besar.
Dalam berbisnis piza ini, kendala yang kini Aris rasakan adalah tingginya nilai tukar dollar terhadap rupiah. Maklum, bahan bakunya masih banyak produk impor.

 

Reporter: Denisa Kusuma, Elisabeth Adventa, Sugeng Adji Soenarso, Tri Sulistiowati
Editor: Johana K.
  • INDEKS BERITA

GK Plug and Play siap gelar program akselerasi batch keempat

KONTAN.CO.ID –  JAKATA. Modal ventura GK Plug and Play Indonesia bersiap menggelar program akselerasi batch keempat yang dimulai Januari nanti. Program angkatan keempat tersebut bakal berlangsung selama tiga bulan.

Maria Sutanto, Community Manager GK Plug and Play Indonesia memastikan program tersebut bakal menyediakan seluruh fasilitas yang dibutuhkan bagi start up untuk bisa berkembang dan melanjutkan bisnis ke tahap selanjutnya. Mulai dari pelatihan, sarana hingga koneksi ke perusahaan dan investor.

Saat ini, sudah ada 300 start up berikut aplikasinya yang mendaftar di program tersebut. Selanjutnya, bakal diseleksi dalam tiga tahap. “Nanti bakal dipilih lagi oleh perwakilan korporasi dan mentor untuk masuk ke tahap final,” katanya kepada KONTAN, Senin (10/12).

Dari pihak korporasi, Plug and Play sudah menggandeng BTN, Sinar Mas, Astra International serta BNI. Adapun penentuan pemenang di program tersebut bakal berlangsung pada April 2019 nanti.

Sedangkan bidang start up yang menjadi pilihan Plug and Play adalah tekfin, asuransi teknologi, internet of things, mobilitas, makanan dan agribisnis serta energi terbarukan.

Reporter: Venny Suryanto
Editor: Markus Sumartomjon

Reporter: Venny Suryanto
Editor: Markus Sumartomjon

Mereguk lagi peluang gerai minuman coklat

KONTAN.CO.ID – Minuman coklat meski tidak sepopuler kopi, teh, atau thai tea,  tidak membuat minuman bercitarasa manis ini ditinggalkan. Masih banyak juga orang yang memburu minuman tersebut. 

Faktor inilah yang membuat para pebisnis menjajal peruntungan di bisnis minuman tersebut. Misalnya,  J’aime Chocolate buatan  Marcelia Indah. 
Ia membuka gerai usaha tersebut sejak 2016 di ajang event dan bazar. Seperti di sekolah, perguruan tinggi, perkantoran dan lainnya. Dua tahun kemudian, Mercelia memberanikan diri membuka gerai di Mal Artha Gading, Jakarta Utara. 
Mendapat respon positif dari  konsumen, dia pun mulai membuka tawaran kerjasama di November 2018. “Saya ingin brand ini lebih dikenal dan dapat tersebar di seluruh daerah,” katanya ke KONTAN. 
Dengan ada 17 varian dengan banderol harga Rp 15.000 sampai Rp 17.000 per cup, ia mengklaim produknya terbuat dari coklat asli yang dicairkan sehingga rasa khas coklat yang segar langsung terasa. 
Kalau ada yang tertarik, ada tiga paket kemitraan usaha  yang ia tawarkan. Pertama, Easy to Win dengan investasi Rp 7 juta. Kedua, Silver Win sebesar Rp 22,5 juta. Dan ketiga, Golden Win yaitu Rp 60 juta. 
Khusus untuk paket terakhir, fasilitas yang didapat mitra adalah satu unit booth permanen, bahan baku awal 300 porsi, perlengkapan masak, freezer, branding, dan pelatihan. Plus tambahan paket Easy to Win. “Sehingga mitra bisa menjalankan dua gerai sekaligus,” ungkapnya.
Perlu dicatat, untuk paket ketiga mitra wajib menyediakan lokasi dengan luas minimal 4 meter persegi (m²),  plus dua orang karyawan.
Untuk menjaga kualitas produk dan menciptakan rasa yang sama disetiap gerai, ia mewajibkan mitra untuk mengambil bahan baku utama dari pusat. 
Berdasarkan perhitungan Marcelia, waktu balik modal yang dibutuhkan mitra sekitar enam bulan. Dengan catatan penjualan tiap hari mencapai 60 cup. Setelah dikurangi biaya produksi dan operasional, porsi keuntungan bersih yang didapatkan oleh mitra sekitar 35%-40% dari total omzet  per bulan. 
Djoko Kurniawan, salah satu konsultan usaha, menilai bahwa bisnis minuman coklat masih punya potensi selama dikelola dengan baik. Edukasi wajib dilakukan agar konsumen tahu manfaat minuman ini.
Mitra akan tertarik menjalin kerjasama jika analisa bisnis menarik dan masuk akal.  Selain itu analisa bisnis harus dibuktikan data nyata di outlet yang sudah buka. Jika analisa sama dengan kenyataan maka mitra akan tertarik. 
Selain itu ia berharap, antara pemilik merek dan mitra bisa saling berkomunikasi dan mementingkan kepentingan bisnis ketimbang kepentingan pribadi.   
J’aime Chocolate 
Mal Artha Gading Lantai 1 Jakarta 
081285049383
Reporter: Tri Sulistiowati
Editor: Johana K.

Reporter: Tri Sulistiowati
Editor: Johana K.

Laba usaha mocaf semakin mantap

KONTAN.CO.ID – Gaya hidup sehat semakin mewabah di Indonesia. Masyarakat yang melakoni gaya hidup sehat jelas pilih-pilih kudapan. Penganan berbahan baku tepung yang mengandung gluten tentu tidak masuk daftar.

Alhasil, tren gaya hidup sehat jadi salah satu pendorong permintaan mocaf, singkatan dari modified cassava flour alias tepung singkong modifikasi. Sebab, tepung yang melalui proses fermentasi ini bebas gluten atawa gluten free.

Karakteristiknya mirip dengan terigu, sehingga bisa digunakan sebagai bahan pengganti tepung yang terbuat dari gandum tersebut.

Kini, banyak pembuat makanan yang memanfaatkan mocaf sebagai bahan baku mi, kue kering, juga kue basah. Permintaan yang meningkat tentu berkah buat produsen mocaf.

Sebut saja, Ade Rinanda asal Yogyakarta. Dengan mengibarkan merek Permata Flower Mocaf, ia mulai memproduksi tepung ini sejak 2015 lalu.

Sebelum membuat sendiri, dia merupakan pengguna mocaf semenjak 2013 silam lantaran memiliki usaha kuliner. “Saya memilih menjadi produsen mocaf karena melihat prospeknya yang menarik,” ungkap pria 43 tahun ini.

Sekarang, Ade mampu memproduksi 10 ton mocaf per bulan. Dengan banderol harga Rp 15.000 untuk kemasan 1 kg, setiap bulan penghasilan yang masuk kantongnya mencapai Rp 150 juta. Untuk margin usaha ini, ia mengaku, angkanya sebesar 25% sampai 35%.

Selain bebas gluten, Ade bilang, keunggulan lain mocaf ada pada kandungan gizi yang lebih kaya dibanding jenis tepung lainnya. Contoh, memiliki kandungan serat tinggi.

Selain itu, harga mocaf lebih murah ketimbang tepung terigu maupun beras. Walhasil, pembuat kudapan bisa menghemat ongkos produksi. Buntutnya, harga jual penganan ke konsumen bisa lebih murah.

Untuk membuat 1 kg mi, misalnya, mocaf mampu menggantikan 50% terigu. Sementara dalam pembuatan kue, mocaf bisa menggantikan seluruhnya peran terigu.

Sehingga, masyarakat sekarang mulai familier dengan mocaf. Permintaannya pun, menurut Ade, melonjak hingga dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir.

Prospek yang menarik juga membuat Nurcahyo dari Bandung menggeluti usaha ini awal tahun lalu. Memang, kapasitas produksi lelaki kelahiran Malang, Jawa Timur, ini baru dua ton sebulan.

Namun di pertengahan tahun depan, ia akan mengerek produksi dengan membangun pabrik mini di kawasan Parompong, Bandung. “Bisa naik lima kali lipat,” ungkapnya.

Nurcahyo berani mendongkrak produksi mocaf setelah melihat permintaan yang terus meningkat. Dia pun sangat optimistis, ke depan penjualannya terus bertambah.

Bahan baku unggul

Bagi yang tertarik mengikuti jejak Ade dan Nurcahyo, pertama kali yang harus Anda lakukan adalah memastikan jaminan pasokan singkong yang berkualitas. Karena pemain mulai banyak, maka untuk menghasilkan mocaf yang baik harus dari bahan baku yang baik pula.

Menurut Nurcahyo, bahan baku yang unggul bisa Anda lihat dari ketela pohon yang memiliki daging putih bersih tapi tidak terlalu keras. Untuk bisa memperolehnya, ia membeli dari petani asal Bogor, Jawa Barat, dan Trenggalek, Jawa Timur. Kisaran harga singkong unggul dari petani antara Rp 1.800–Rp 2.000 per kg.

Sedang Ade mendapatkan pasokan singkong dari wilayah Yogyakarta dan Trenggalek. Harganya memang sedikit lebih mahal, sekitar Rp 2.000 hingga Rp 2.500 untuk satu kilogram. “Namun kualitasnya oke punya,” ujarnya.

Cuma, Anda harus tahu, ada kalanya panen singkong mengalami gangguan akibat siklus musim hujan yang berubah. Informasi saja, singkong akan tumbuh subur saat kemarau.

Setelah memastikan pasokan bahan baku, untuk bisa menghasilkan mocaf, mesti melewati proses fermentasi agar tepung bisa memiliki karakteristik terigu. Bukan cuma itu, fermentasi juga untuk meningkatkan nilai gizi mocaf layaknya proses kedelai jadi tempe.

Ada dua mesin yang Anda perlukan dalam proses ini: mesin pemotong dan penghancur singkong. Kedua mesin bisa Anda dapatkan dengan mudah di toko online dan offline. Harganya berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 4 juta per mesin untuk buatan China. Ade bilang, kualitas mesin buatan Tiongkok terbilang cukup baik.

Proses pembuatan mocaf, Ade mengatakan, juga tidak rumit, kok. Setelah singkong dikupas kulitnya dan dibersihkan dengan air mengalir, selanjutnya dipotong kecil-kecil dengan menggunakan mesin pemotong.

Kemudian, direndam dalam enzim bio-mocaf selama satu hari. Tahap berikutnya, dijemur hingga kering lalu ditumbuk dan dihaluskan dengan mesin.

Langkah selanjutnya adalah pengemasan. Anda bisa mengemas mocaf dalam plastik kemasan berbagai ukuran.

Edukasi masyarakat

Oh, iya, Ade mengingatkan, jangan lupa mengurus izin ke Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Ini penting, untuk memberikan pesan: tepung Anda layak jual dan memenuhi standar kesehatan.

Berdasarkan pengalamannya mengurus perizinan itu dua tahun lalu, Ade membeberkan, selama semua syarat terpenuhi, maka izin bisa keluar dalam waktu delapan bulan. Biayanya sebesar Rp 1,5 juta.

Sementara proses izin yang Nurcahyo jalani jauh lebih singkat yakni lima bulan. Tetapi, ia enggan mengungkapkan secara pasti, berapa biaya pengurusannya. Yang jelas, “Tidak sampai Rp 5 juta,” sebutnya.

Setelah dikemas dengan mengantongi izin edar dari lembaga terkait, mocaf siap Anda pasarkan. Baik Nurcahyo maupun Ade sepakat, meski sudah lebih familier, untuk bisa mempromosikan tepung ini tetap membutuhkan upaya ekstra.

Salah satu proses pemasaran yang mereka tekankan adalah, mengedukasi masyarakat. Ini penting untuk bisa merebut hati konsumen baru yang kebanyakan masih memandang sebelah mata tepung tersebut.

Meski begitu, mereka mengaku diuntungkan dengan perkembangan pesat internet yang memudahkan proses penjualan mocaf. Berbeda dengan empat tahun atau lima tahun lalu, kini penjualan lewat kanal daring kian marak. Makanya, strategi terbaik untuk menjual mocaf dengan memakai website, media sosial (medsos), juga marketplace.

Tidak heran, Ade sekarang mengandalkan 80% pemasaran lewat saluran online. “Selain jangkauannya lebih luas, juga lebih efisien,” katanya.

Begitu juga dengan Nurcahyo, yang tiap bulan menyisihkan Rp 1 juta–Rp 3 juta untuk promosi via dunia maya. Uang itu mayoritas dia gunakan untuk biaya Facebook Ads dan promosi berbayar lain.

Nurcahyo juga aktif menggunakan strategi reseller untuk memperluas jaringan pemasaran produknya. Meski baru memasuki tahun kedua, ia sudah punya 25 reseller yang tersebar di Jawa dan Sumatra.

Bagaimana, apakah Anda tertarik terjun ke usaha pembuatan mocaf?

Reporter: Ragil Nugroho
Editor: S.S. Kurniawan

Reporter: Ragil Nugroho
Editor: S.S. Kurniawan

Ferret, si imut lucu dan jinak dengan harga jutaan rupiah

KONTAN.CO.ID – Semakin banyak pilihan hewan untuk menjadi peliharaan di rumah. Bukan hanya kucing, anjing, ikan atau ayam nan cantik, kini banyak jenis hewan-hewan yang selama ini tak familiar dipelihara sebagai hewan kesayangan. Salah satunya, ferret.   

Ferret adalah mamalia karnivora dari keluarga Mustelidae. Mirip seperti berang-berang, hewan ini berukuran mungil, tubuhnya agak memanjang dengan berat 0,7-2 kilogram (kg). 
Karakternya aktif dan jinak, sehingga cocok menjadi teman bermain. Meski tergolong karnivora,  ferret tidak suka menggigit tuannya. 
Ferret sudah lazim dipelihara di negara-negara yang ada di Eropa, Australia dan Amerika. Belakangan, hewan dengan warna bulu hitam putih dan cokelat ini mulai dikembangbiakkan di China dan Thailand. 
Afar Prayanto, breeder ferret asal Depok, Jawa Barat sekaligus pemilik Saung Musang Depok mengatakan, ferret memang sedang populer. Selain mimik mukanya yang terlihat imut, hewan ini sangat jinak. “Dia kalau gigit itu nempel jadi kalau kita berdiri dia ya gantung begitu, tapi tidak akan menggigit kalaupun mulutnya dirogoh saat akan dilepaskan,” jelasnya. 
Lantaran pengembangbiakkannya belum banyak, harga ferret cukup tinggi. Afar membandrol anakan ferret berumur dua bulan mulai Rp 4 juta-Rp 5 juta per ekor. 
Pemburu ferret miliknya adalah para pehobi binatang yang tertarik untuk ikut mengembangbiakkan. “Dalam sebulan permintaannya banyak sekali, namun saya masih tetap membatasi, untuk menjaga harga jual agar tidak anjlok serta menjaga kualitas indukan,” katanya. 
Ginanjar Setiyadi, breeder asal Yogyakarta sekaligus pemilik Gonjar Per Project mengakui hewan asal Amerika ini memang tergolong hewan peliharaan mahal. Karena, sangat sulit dikembangbiakkan. 
“Tingkat stress hewan ini tinggi, indukan sering memakan anaknya sendiri atau hamil anggur (hamil kosong),” katanya pada KONTAN.
Dia pun membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk sukses menghasilkan anakan yang sehat. Sekarang dia mempunyai 16 ekor indukan. 
Laki-laki yang lebih akrab disapa Gonjar ini mengaku baru melepas ferret ke pengadopsi setelah berumur tiga bulan. Sebab, ia ingin memastikan kondisi fisiknya kuat dan sehat. 
Untuk harganya dibanderol bervariasi mulai dari Rp 4,5 juta sampai Rp 7 juta per ekor. “Harga ini disesuaikan dengan warna bulu si ferret semakin unik akan semakin mahal,” jelasnya. 
Untuk konsumennya berasal dari berbagai kota mulai dari Jakarta, Surabaya, hingga Kalimantan.   

Reporter: Tri Sulistiowati
Editor: Johana K.
  • INDEKS BERITA

Koin (Toko Indonesia) menggandeng warung kelontong

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Jumlah warung kelontong yang di wilayah Jabodetabek  yang mencapai 35.000 warung, menjadi pasar yang menjanjikan bagi PT Ritel  Global Solusi, pengelola layanan digital warung kelontong berlabel Toko Indonesia (Koin).  

Menurut Devi Erna Ravhmawati, CEO Toko Indonesia, pihaknya menawarkan layanan digital kepada pemilik warung kelontong. Mulai dari pesanan barang, pengiriman barang dan lainnya. Langkah ini dimaksudkan untuk bisa mendongkrak omzet dari warung kelontong. “Kami menargetkan mitra bisa mendapatkan omzet antara Rp 1 juta sampai Rp 2,5 juta per hari,” katanya, Kamis (6/12).

Saat ini, klaimnya, omzet warung tradisional cuma sekitar Rp 500.000 per hari. Padahal, tiga tahun yang lalu masih sanggup mendapatkan omzet Rp 3 juta. Salah satu penyebab karena kurang memanfaatkan layanan digital.

Dengan layanan yang diberikan, Toko Indonesia berharap bisa menggandeng sebanyak 5.000 mitra warung tradisional di wilayah Jabodetabek di tahun 2019 nanti. Adapun untuk tahap awal, Toko Indonesia bakal membuka warung perdana pada tanggal 9 Desember nanti yang ada di Depok.
 

Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Editor: Markus Sumartomjon

Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Editor: Markus Sumartomjon

Melirik empuk bisnis boneka karakter custom

KONTAN.CO.ID – Meski model boneka sudah beragam, namun, tak menyurutkan semangat orang untuk terus berkreasi. Model boneka terus mengalir mengikuti tren dan keinginan pasar.

Salah satunya, boneka karakter. Disebut demikian, lantaran bentuk boneka ini mengikuti karakter seperti yang diinginkan para pemesannya. Sebut saja, karakter salah satu KPop, atau merujuk pada gaya penampilan dan profesi seseorang.

Wahyu Lies Sundoro, salah satu pembuat boneka karakter pun meraup berkah dari tren boneka karakter ini. Ia membuatnya secara custom. Model yang pernah Wahyu buat adalah boneka bergaya jawa dengan memakai blangkon, atau boneka yang menampilkan profesi tertentu, seperti tentara, perawat, guru dan lainnya.

Biasanya, boneka-boneka ini memang dipesan sebagai hadiah atau suvenir. Sehingga, seringkali pemesanan memang menyebut karakteristik unik dari orang-orang yang akan diberi boneka tersebut.

Wahyu memakan bahan-bahan untuk membuat boneka pada umumnya. Yaitu, kain velboa (bulu lembut), Nylex (tekstur kulit), flannel untuk pakaian, kain dengan beragam jenis, spon, dan aksesoris lainnya. Ia mempekerjakan empat karyawan dalam proses produksi.

“Kapasitas produksi per harinya bisa berkisar 30-50 boneka, tergantung tingkat kerumitannya juga,” jelas Wahyu. Dalam sebulan, rata-rata order yang menghampirinya sekitar 300 pesanan.

Ia menjual boneka karakter ini mulai dari harga Rp 150.000 untuk ukuran 25cm dan Rp 200.000 untuk 40 cm. Wahyu mengklaim, saat ini, produknya tak hanya dikenal di Indonesia saja, tapi sudah mencapai Eropa, Amerika dan Australia.

Pemain lainnya adalah, Jarwati, pemilik Ayskacraft.  Jarwati pun menilai bisnis boneka karakter ini masih potensial. Lantaran bisa didesain sesuai keinginan, peminat boneka ini terus bertambah.

Wati juga membuat bermacam boneka karakter, seperti boneka pengantin sesuai adat, boneka wisuda, boneka keluarga dan boneka profesi TNI, polisi, dokter, koki dan lain sebagainya. Ia membanderol bonekanya mulai Rp 50.000-Rp 700.000 tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. “Harga tergantung dari jumlah boneka dan ukuran kemasannya,” terang Wati.

Biasanya, pesanan ramai menjelang musim wisuda, Lebaran atau musim pernikahan. Untuk menggarap pesanan boneka karakter ini, Wati hanya dibantu oleh suaminya.

Oleh karena itu, waktu pengerjaannya lumayan lama. Bisa satu hingga dua minggu, tergantung tingkat kerumitannya. Selain boneka karakter satuan, dia juga mengembangkan karyanya menjadi boneka karakter untuk mahar.

Reporter: Venny Suryanto
Editor: Johana K.

Reporter: Venny Suryanto
Editor: Johana K.

Layanan tiket bus online Easybook siap merambah hingga Papua

KONTAN.CO.ID –  JAKARTA. Easybook, salah satu platform pemesanan tiket bus terus bertumbuh. Adapun total transaksi yang telah dicatatkan perusahaan sejauh ini sebanyak 7.500 transaksi.

Andy Darmawan, Country Manager Easybook Indonesia menyebutkan pertumbuhan bisnis perusahaan ini cukup signifikan. “Tahun lalu dari pihak operator masih banyak yang menolak, tapi di tahun ini pertumbuhan bisa mencapai 20%,” ujarnya saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (3/12).

Ia tidak menyebutkan secara detail terkait angka pendapatan. Dibandingkan tahun lalu diharapkan total transaksi yang terjadi di easybook bisa bertumbuh dua kali lipat atau sebanyak 10.000 transaksi dibandingkan tahun lalu sebanyak 5.000 transaksi. Adapun saat ini, jumlah transaksi yang telah terjadi sebanyak 7.500 transaksi. Adapun permintaan per bulannya ia menyebutkan 600 tiket terjual.

Adapun untuk range harga yang ditawarkan untuk pemesanan tiket transportasi tersebut mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 800.000 per kursi.

Untuk menggenjot transaksi, perusahaan ini terus berusaha  meningkatkan pemasaran. Supaya lebih mengenalkan easybook kepada masyarakat.

Easybook sendiri merupakan platform online untuk memesan tiket baik tiket bus, kereta api, dan feri. Namun, ia bilang memang paling banyak permintaan yang diterima perusahaan untuk pemesanan tiket bus. “Komposisinya 60% permintaan tiket bus, sisanya masing-masing 20%,” tuturnya.

Adapun easy book saat ini telah bermitra dengan lebih dari 200 operator bus di Indonesia. Andy bilang tim operatornya telah berada di Kalimantan, Aceh, Sulawesi. Bahkan di tahun depan, ia bilang berencana menambah di Papua.

Sedangkan permintaan tiket untuk antar kota dan antar provinsi perbandingannya disebutkan 30% untuk antar kota, dan 70% untuk antar provinsi. Bahkan ia bercerita pernah menerima pesanan dari Jakarta-Labuan Bajo yang notabene membutuhkan waktu 3 hari perjalanan.

Karenanya, ia optimistis dengan maraknya pemain sejenis market dari moda transportasi bus ini memiliki market yang sangat besar. Bahkan, turis asing yang mengunjungi Indonesia secara konsisten juga menggunakan jasa easybook. “Kami melayani 20% permintaan dari turis asing,” ujarnya.

Selain market yang masih besar, ia menyebutkan bahwa keunggulan dari easybook sendiri terletak pada sistem yang dimiliki perusahaan. “Kalau kompetitor bantu jual aja, kami memiliki sistem internal untuk perusahaan tersebut, Kami juga memberikan bantuan ke perusahaan melalui backend sistem kami, jadi semua lewat online secara internal perusahaan sehingga agen-agen ini dipermudah dan dipercepat dalam menjual tiket,” jelasnya.

Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Editor: Markus Sumartomjon

Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Editor: Markus Sumartomjon

Redbus meresmikan pengoperasiannya di pasar Indonesia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. RedBus mulai meresmikan kehadirannya di Indonesia. Start up berharap masyarakat bisa lebih gampang memesan tiket bus secara daring.

Prakash Sangam, CEO redBus menjelaskan saat ini layanannya telah ada di enam negara termasuk India, Kolombia, Indonesia, Malaysia, Peru, dan Singapura. Menilik pertumbuhannya Indonesia menjadi market yang sangat potensial dibandingkan negara lainnya.
“Bahkan Indonesia juga paling banyak penggunanya,” ujarnya di Jakarta, Senin (3/12).

Menilik potensi yang ada ia bilang di tahun depan perusahaan ini berusaha menggaet lebih banyak operator bus.

Secara global ia harapkan sampai akhir tahun nanti perusahaan menargetkan pendapatan sebesar US$ 65 juta.  Namun, ia enggan menyebutkan target pendapatan dari Indonesia sendiri.

Danan Christadoss, Country Head redBus Indonesia menambahkan bahwa saat ini pihaknya sudah bermitra dengan 195 operator bus. “Tahun depan target kami bisa menggaet lebih dari 200 operator bus,” tambahnya.

Dari target tersebut ia harapkan bisa melego sebanyak  lebih dari 200.000 ribu kursi tiket bus di tahun depan.

Saat ini, Redbus sudah bermitra dengan  Sinar Jaya, Pahala Kencana, Lintas, Xtrans, Nusantara, dan Sumber Alam telah bergabung. Dengan dukungan dari para mitra ini, redBus dapat melayani sebagian besar permintaan bus dan shuttle bus yang berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Termasuk  rute pendek seperti Jabodetabek ke Bandung serta Joglo Semar (Yogyakarta, Solo, Semarang).

Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Editor: Markus Sumartomjon

Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Editor: Markus Sumartomjon