Aroma bisnis piza masih menguar

Popularitas piza tak pernah meredup. Terutama bagi anak-anak muda. Selain rasanya yang pas dengan lidah, penampilannya yang cantik dan Instagramable membuat kudapan khas Italia ini banyak digemari.

Apalagi, sekarang, banyak penikmat kuliner yang hobi memotret sajiannya sebelum disantap, lalu diunggah ke akun media sosialnya. Fenomena ini mendorong pertumbuhan gerai piza lokal. Gerainya tak hanya muncul di perkotaan,  tapi juga di daerah.

Bahkan, tak sedikit dari pemilik usaha yang mulai mengembangkan bisnisnya melalui sistem kemitraan. Memang, strategi ini cukup jitu supaya bisnis bisa berkembang dengan cepat .
Gayung bersambut. Respon tawaran kemitraan ini cukup positif. Pemilik kedai piza lokal pun berhasil membuka gerai-gerai mitra saban tahunnya. Ada belasan sampai puluhan mitra dirangkul setiap tahun.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang perkembangan sektor usaha ini, Kontan akan membahas tiga usaha kemitraan pizza yaitu Djon’s Pizza, Bebz Pizza, dan Pizza Mini. Berikut ulasannya.
Djon’s Pizza
Usaha kuliner milik Aris Soendoro terlihat berkembang cukup agresif. Pasalnya, dalam kurun waktu dua tahun total mitra yang bergabung naik lebih dari tiga kali lipat Daftar Poker.
Saat diwawancara KONTAN pada 2016 lalu, Aris baru memiliki sembilan gerai. Sekarang, sudah bertambah menjadi 30 gerai. Rinciannya, empat milik sendiri dan 26 lainnya milik mitra.
“Mitra tersebar dari Aceh, Temanggung, Magelang, Kutoarjo, Wates, Yogyakarta, Boyolali, Malang, Papua, dan Sulawesi Tenggara,” jelasnya kepada KONTAN. Sampai dengan penghujung tahun, dia menargetkan dapat menjaring dua mitra baru.
Paket kemitraan Djon’s Pizza sedikit berubah, Jika dua tahun lalu, kemitraan dipatok mulai dari Rp 15 juta, Rp 40 juta, dan Rp 75 juta sampai Rp 100 juta, sekarang, khusus paket investasi Rp 15 juta sudah naik menjadi Rp 30 juta. Kenaikan tersebut sengaja dilakukan untuk meningkatkan sistem manajemen.
“Setiap mitra punya satu sistem suplai barang di kami. Jadi, dari biaya kemitraan itu ada yang kami alokasikan di sistem kami, baik untuk penambahan freezer atau stok barang. Jadi, mitra punya stok barang sendiri-sendiri,” terang Aris.
Ia juga menambahkan satu paket kemitraan dengan nilai Rp 180 juta. Fasilitas yang didapatkan mitra adalah segala keperluan membuka usaha dan berjualan. Sehingga, mitra tinggal menjalankannya saja.
Djon’s Pizza juga terus berinovasi. Aris menyebutkan untuk varian ukuran, ia menambahkan satu ukuran yaitu Jumbo Box. Alhasil, kini ada empat varian ukuran piza dalam menu Djon’s Pizza.
Selain itu, ia bilang. dalam tiga bulan ke depan akan meluncurkan layanan pesan online versi aplikasi yang bertujuan untuk mempermudah permintaan konsumen.
Disisi lain ada satu menu yang dikurangi. “Kami hapus karena melihat lokasi mitra yang jauh-jauh, jadi kami pilih menu yang bisa bertahan lama saja,” tuturnya.
Untuk harga produknya masih dibanderol sama, yaitu Rp 15.000 sampai Rp 23.000 per loyang ukuran kecil, Rp 25.000 sampai Rp 40.000 per loyang untuk ukuran sedang, dan Rp 50.000 sampai Rp 75.000 untuk ukuran besar.
Dalam berbisnis piza ini, kendala yang kini Aris rasakan adalah tingginya nilai tukar dollar terhadap rupiah. Maklum, bahan bakunya masih banyak produk impor.

Mencubit kenyal cuan pempek mozarella Cik Lampung

Usaha kuliner legendaris dengan konsep kekinian diprediksi bakal ramai sepanjang 2019. Seperti pempek mozarella yang  sengaja dibuat untuk mengikuti perkembangan jaman sekaligus menjaring konsumen kalangan milenial.

Paoli, pemilik gerai pempek Cik Lampung, membuat pempek dengan tambahan isian keju mozarella yang leleh saat digigit. Selain sesuai dengan pasar anak muda, pempek pun dibuat instagramable.

Gerai pempek Cik Lampung  sudah beroperasi sejak 2014 lalu. Saat itu, Paoli hanya menjual lewat online.  Setelah menuai respon positif, laki-laki berusia 28 tahun ini membuka gerai fisiknya di Depok, Jawa Barat.

Setelah viral, Paoli pun menambah gerainya. Kini, ada dua cabang di Jakarta dan Tangerang. Sejak Agutus lalu, dia mulai melebarkan sayap bisnisnya melalui konsep kemitraan. Sampai sekarang sudah ada tiga mitra yang bergabung di Yogyakarta, Bali, dan Makassar.

Mengincar konsumen dari  kalangan menengah, Paoli menjual pempeknya mulai Rp 5.000 sampai Rp 28.000 per porsi. Ada 13 varian beberapanya adalah pempek kapal pesiar dan pempek original topping mozarella.

“Selain menggunakan mozarella yang leleh saat di gigit perbedaan Cik Lampung adalah menggunakan campuran cuka apel dan asam jawa sebagai sausnya sehingga aman untuk dikonsumsi,” katanya.

Cik Lampung menawarkan kemitraan dengan investasi Rp 25 juta. Fasilitas yang didapatkan mitra adalah satu unit gerobak, bahan baku awal senilai Rp 550.000, perlengkapan masak lengkap, pelatihan, dan branding.

Untuk menjaga standar produk, manajemen mewajibkan mitra untuk mengambil semua pempek dan saus dari pusat.

Berdasarkan perhitungan Paoli, waktu balik modal mitra kurang dari dua tahun. Dengan catatan, total penjualan mencapai Rp 500.000 per hari.

Setelah dikurangi biaya produksi dan operasional, porsi keuntungan bersih yang didapatkan mitra sekitar 30% dari total omzet per bulan. Optimis bisnisnya akan booming, Paoli memasang target membuka 30 gerai baru sepanjang tahun 2019.

Menakar gurih cuan bento ala Bandung

Meski tak lagi populer, menu bento sering menjadi pilihan kala lapar melanda. Para pemain usaha bento pun masih optimistis bisnisnya terus berkembang.

Seperti Bhakti Desta Alamsyah, pendiri Boyben. Bhakti menawarkan kemitraan gerainya pada awal 2018 ini.

Kini sudah ada enam gerai mitra yang bakal dibuka. Diantaranya di Bogor, Jombang, Magelang, dan Manokwari.

Boyben sendiri sudah berdiri sejak 2016 lalu. Gerai pertamanya ada di Bandung. Seperti sebutan gerainya, Bhakti mendesain gerainya dengan aneka poster boyband dan melengkapinya dengan lagu-lagu boyband yang tenar.

Ada sekitar 50 menu yang disediakan Boyben. Diantaranya, chicken teriyaki dan chicken katsu. Harga menu-menunya mulai Rp 18.000 sampai Rp 25.000 per porsi.

Bhakti bilang, kelebihan gerainya terletak pada pemakaian bahan baku premium. Selain itu, racikan bumbunya tak kalah dengan brand ternama.

Ada tiga paket kemitraan Boyben. Pertama,  paket mini resto senilai Rp 125 juta. Fasilitasnya, seluruh perlengkapan resto dengan ruang seluas 25 m², bahan baku awal, penggunaan merek usaha, pelatihan, branding, dan tambahan lainnya IDN Poker.

Kedua, paket resto dengan investasi Rp 150 juta. Yang didapatkan mitra sama dengan paket sebelumnya, hanya luas lokasinya 50 m². Dan, ketiga, paket resto cafe senilai Rp 175 juta dengan luas minimal tempat yang harus disiapkan 75 m².

Perlu dicatat, kerjasama ini mengutip royalti fee sebesar 5% serta mewajibkan seluruh mitra mengambil bahan baku powder dari pusat.

Berdasarkan perhitungan Bhakti, waktu balik modal yang dibutuhkan mitra kurang dari satu tahun. Dengan catatan, total minimal penjualan per hari mencapai Rp 1,5 juta.

Bila dikalkulasi, target penjualan sebulan mencapai Rp 45 juta, setelah dikurangi biaya produksi dan operasional porsi keuntungan bersih yang dapat dikantongi mitra sekutar 30% dari omzet per bulan.

Lainnya, Bhakti memasang target membuka dua gerai cabang saban bulannya sepanjang tahun 2019. Makanya, sekarang dia getol untuk melakukan aksi promosi online maupun  offline untuk merangkul lebih banyak mitra.

Djoko Kurniawan, Konsultan Usaha menilai, potensi usaha resto bento masih bagus jika menu yang ditawarkan menarik dan berbeda. Tapi jika menu dan rasa standar serta tidak ada perbedaan maka akan ada kendala usaha.

Untuk menjaring mitra, analisa bisnis harus menarik dan punya konsep yang jelas. Pada saat gerai mitra makin banyak maka standarisasi harus baku dan audit harus dijalankan dengan teratur dan pola yang jelas.  Kualitas makanan dan pelayanan juga harus selalu baik.